12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom – omalia, dahulu bernama Republik Demokratik Somali, adalah sebuah negara yang terletak di Tanduk Afrika. Negara ini berbatasan dengan Djibouti di barat laut, Kenya di barat daya, Teluk Aden dan Yaman di utara, Samudra Hindia di sebelah timur, dan Ethiopia di sebelah barat.

Konvoi petugas keamanan intelijen Somalia mengalami serangan dari kelompok milisi al-Shabaab. Serangan tersebut berupa bom pinggir jalan di kota Dhusamareb, jauh sebelah utara ibukota Mogadishu.

Serangan bom pinggir jalan terjadi pada hari Minggu (7/2) & mengakibatkan belasan petugas intelijen meninggal. Melansir dari kantor berita Reuters, setidaknya ada 12 pasukan yang meninggal dalam Club388 Indonesia ledakan bom pinggir jalan di luar kota Dhusamareb itu.

1. Perselisihan mekanisme pemilu

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom 

Somalia saat ini tengah membicarakan untuk melakukan pemilihan umum secara langsung untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir. Para pemimpin politik melakukan pertemuan di kota Dhusamareb untuk menyelesaikan masalah bagaimana mengadakan pemilihan presiden.

Rencananya, pemilu akan digelar pada 8 Februari namun hal itu tidak bisa dilakukan. Kesepakatan mengenai pemilu tersebut sejauh ini sulit untuk dipahami. Kekacauan politik kemungkinan akan timbul di Somalia, di samping negara harus terus-menerus menghadapi serangan kelompok jihadis al-Shabaab.

Melansir dari laman Al Jazeera, pemerintah Somalia tidak mampu mengendalikan serangan harian sporadis yang dilakukan oleh kelompok jihadis yang memiliki afiliasi dengan al-Qaeda tersebut. Karena itu, ada opsi untuk mengubahnya dari pemilihan langsung dan beralih ke pemungutan suara tidak langsung.

2. Dua negara bagian menentang penyelenggaraan pemilu

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom 

Piihan untuk melakukan pemilihan presiden secara tak langsung adalah dengan cara para tetua klan memilih perwakilan legislatornya. Legislator tersebut kemudian yang akan menentukan memberikan suaranya untuk memilih presiden.

Presiden Somalia saat ini adalah Mohamed Abdullahi Mohamed dan masa jabatannya akan segera berakhir. Namun pertemuan yang mencoba untuk menyelesaikan pertikaian rupanya juga gagal. Melansir dari laman Deutsche Welle, dua negara bagian yakni Putland dan Jubbaland menentang penyelenggaraan pemilu.

Osman Dube, staf komisi pemilihan daerah mengatakan “Tidak ada kesepakatan yang dicapai. Pemerintah (telah) menawarkan untuk merundingkan dan menyelesaikan semua masalah yang disengketakan, tetapi beberapa saudara gagal untuk memahami dan menolak untuk menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan tindakan yang fleksibel dan penuh dengan kelembutan dan kompromi agar bisa menyelesaikan sengketa. Namun beberapa pemimpin politik justru mencoba memanfaatkan dengan meminta kesepakatan menguntungkan lebih banyak di satu sisi.

Presiden Mohamed Abdullahi langsung terbang kembali ke Mogadishu pada hari Sabtu (6/2) ketika pertemuan tersebut gagal mencapai kesepatakan yang diinginkan. Dia saat ini sedang berupaya mencalonkan diri lagi untuk mendapatkan masa jabatan yang kedua kalinya.

3. Kepala intelijen kota ikut tewas dalam serangan

12 Petugas Keamanan Somalia Tewas karena Ledakan Bom 

Somalia telah mengalami ancaman kekurangan pangan yang meluas bagi para penduduknya. Ditambah dengan tidak adanya kesepakatan pemilu terbaru, maka krisis konstitusi akan semakin mengancam negara. Serangan bertahun-tahun yang dilancarkan oleh kelompok al-Shabaab membuat situasi negara tersebut semakin tidak stabil.

Pada hari Minggu, serangan bom pinggir jalan dengan dahsyatnya menghantam konvoi petugas keamanan di desa El Dhere, sekitar 28 kilometer sebelah barat kota Dhusamareb, tempat pertemuan terbaru dilangsungkan. Melansir dari VOA, Abdirashid Abdinur Qoje yang menjabat sebagai kepala badan intelijen kota Dhusamareb, menjadi salah satu korban tewas bersama 11 pasukan lainnya.

Menteri informasi negara bagian, Ahmad Shire Falagale, menjelaskan bahwa “sebuah kendaraan yang membawa Qoje, dan tentara lain yang menyertainya terkena ranjau darat; petugas dan beberapa tentara tewas,” katanya menjelaskan.

Kelompok milisi al-Shabaab mengaku bertanggung jawab. Tiga hari sebelumnya, tujuh militan tewas dari kelompok al-Shabaab karena serangan mortir pasukan pemerintah. Serangan bom pinggir jalan itu menjadi konfrontasi kedua antara pasukan pemerintah dan milisi dalam tiga hari terakhir.

Comments are closed.