Arsitektur Belanda yang Kental Akan Budaya Nusantara di Bandung

Arsitektur Belanda yang Kental Akan Budaya Nusantara di Bandung

Arsitektur Belanda yang Kental Akan Budaya Nusantara di Bandung

Arsitektur Belanda yang Kental Akan Budaya Nusantara di Bandung – Kota Bandung adalah kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Sejak Pemerintah Hindia Belanda memindahkan ibu kota Jawa Barat dari Karapyak (kini terletak di Kabupaten Bandung) menuju pusat Kota Bandung. Pembangunan di lakukan sangat masif demi menciptakan lanskap ibu kota yang hakiki. Salah satu bangunan termegah yang diwacanakan untuk di bangun sebagai sebuah simbol ialah Gedung Sate. Yang hingga kini menjadi simbol kedigdayaan Kota Bandung sebagai salah satu daerah terpenting di Indonesia.

Pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Deandels, merupakan salah satu sosok yang meresmikan pergeseran ibu kota Jawa Barat itu. Alasannya karena ia melihat banyaknya potensi, baik alam mau pun sosial, yang di miliki oleh Kota Bandung agar menjadi daerah yang dapat di bangun secara matang. Keputusan itulah yang membuat Kota Bandung kini di penuhi banyak wujud arsitektur peninggalan Belanda.

Di antara berbagai arsitektur yang di bangun, Gedung Sate, atau dulu disebut Gouvernements Bedrijven, menjadi salah satu yang termegah. Tak hanya pembangunannya yang melibatkan 2.000 pekerja dan 150 pemahat. Pembangunan Gedung Sate juga merupakan penerapan ilmu idn poker deposit pulsa dua arsitek muda lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, De Roo dan G. Hendriks.

1. Biaya pembangunan mencapai 6 juta Gulden

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Dalam upacara peletakan batu pertama pada 27 Juli 1920, Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum, tak bisa menghadiri seremoni tersebut. Walhasil, Johanna Catherina Coops di tunjuk sebagai sosok yang menggantikan Graaf dalam peletakan batu pertama. Ia adalah putri sulung Wali Kota Bandung kala itu, B. Coops, dan istrinya Petronella Roelofsen.

Tak tanggung-tanggung, biaya yang di keluarkan untuk mendirikan Gedung Sate mencapai 6 juta Gulden, atau jika kini di-rupiah-kan mencapai sekitar Rp46 miliar, sebuah angka fantastis untuk zaman saat itu. Angka 6 juta Gulden konon menjadi alasan mengapa ada enam sate yang di tusuk di atap Gedung. Namun sejatinya, fakta di balik jumlah tusuk sate itu hingga kini masih menjadi perdebatan para ahli.

2. Rupa Bandung setelah Gedung Sate berdiri

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Belum di temukan data pasti soal kondisi Kota Bandung ketika Gedung Sate pertama kali di dirikan. Namun, yang pasti, 15 tahun setelahnya atau sekitar tahun 1939, buku Studi Ruang Lingkup (Terrain Studies) Batavia-Bandung bikinan Allied Geographical Section yang di akses lewat Perpustakaan Hargrave-Andrew, Monash University, Australia, punya penjabaran yang lengkap tentang kondisi Bandung kala itu.

Dalam buku tersebut, para peneliti menulis bahwa Bandung dihuni oleh 166.900 penduduk yang berasal dari berbagai negara di antaranya 130.00 penduduk asli, 19.700 orang Eropa, 16.700 orang Tiongkok, dan 500 orang asing dari beragam asal.

“Orang-orang Eropa sebagian besar terdiri dari pejabat pemerintah, personel tentara dan sejumlah besar pensiunan. Kegiatan komersial yang sebenarnya di kota (yang ditekuni oleh) orang Tiongkok sebagai perantara, pedagang, dan pengrajin. Penduduk asli, dari ras Soendanese, bekerja sebagai petani, pekerja, dan pedagang kecil,” tulis buku tersebut di halaman 93.

3. Bandung telah jadi pusat peradaban

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Tak sampai di sana, ketika itu pula Bandung memang telah menjelma menjadi kota besar dengan berbagai ciri peradaban maju. Para peneliti Allied Geographical Section menulis dengan, “bangunan besar, sekolah, panti asuhan, dan lain-lain, yang bisa di konversi menjadi gedung kantor”.

Ada pula Rumah Sakit Juliana yang memiliki 500 tempat tidur beserta peralatan medis yang mutakhir. Belum lagi pabrik senjata ringan yang di dirikan di Kiaracondong, Bandung. Maklum saja, pasalnya di sana ada barak infanteri dan barak Angkatan Udara (yang tepatnya terletak di Cimahi), serta berbagai institusi kepolisian.

Dalam segi ekonomi, ada sederet kantor perbankan yang ketika itu telah berdiri di Bandung di antaranya Bank Jawa, Nederlandsche Indische Handelsbank, dan Nederlandsche Handel Maatschappij.

4. Gedung Sate dalam kaca mata arsitektur

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Tidak hanya di puji karena kemegahannya, Gedung Sate pun memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Gedung satu ini di bangun atas campuran berbagai nilai arsitektur mulai dari Eropa, Asia, hingga Nusantara, yang membuatnya berdiri dengan anggun.

Salah satu bukti percampuran nilai arsitektur timur dan barat dalam Gedung Sate sebenarnya dapat di lihat oleh kasat mata. Bentuk badan bangunan Gedung Sate merupakan gaya arsitektur barat, seperti gedung-gedung Italia di masa Renaissance, sementara atap bertingkat mirip pagoda merupakan nilai arsitektur khas timur.

5. Arsitektur tak melupakan nilai-nilai Nusantara

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Dan kini, tengoklah kemegahan Gedung Sate yang masih berdiri saat ini meski usianya sudah seabad. Di sana, tepatnya pada bagian tengah, terdapat suatu ornamen yang menyerupai bentuk candi yang berundak, kontras, dan menarik perhatian.

Arsitektur Hindu-Buddha macam ini masih bisa kita jumpai pada gerbang masuk bangunan-bangunan lama di Jawa dan Bali, seperti kompleks keraton, makam keramat, serta pura, dan puri.

Arah menghadap Gedung Sate juga nyatanya menjadi salah satu hal yang amat di pertimbangkan para arsitek. Jika Gedung Pakuan (kini rumah dinas Gubernur Jawa Barat) menghadap ke Gunung Malabar di selatan Bandung, Gedung Sate justru menghadap ke arah Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di utara Bandung.

Keputusan para arsitek ini merupakan bukti bahwa Gedung Sate tidak hanya di desain dan di bangun atas egoisme Pemerintah Hindia Belanda, melainkan juga dengan mempertimbangkan lingkungan sekitarnya.

Pembangunan gedung ikonik itu sendiri di mulai pada 27 Juli 1920, atau jatuh tepat hari ini satu abad lalu. Pembangunan di lakukan selama kurang lebih empat tahun, hingga rampung pada September 1924.

Gedung Sate secara resmi tercatat terletak di Jalan Diponegoro No. 22 Kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini berdiri di atas lahan seluas 27.990,859 meter persegi. Dengan luas bangunan sekitar 10.877,734 meter persegi.

100 tahun berlalu, 14 nama telah menjadi Gubernur Jawa Barat yang berkantor di sana bersama para amtenarnya.  Termasuk yang kini menduduki jabatan itu yakni mantan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Comments are closed.