Lukisan Gua Sulsel Tertua di Dunia Berumur 45 Ribu Tahun

Lukisan Gua Sulsel Tertua di Dunia Berumur 45 Ribu Tahun

Lukisan Gua Sulsel Tertua di Dunia Berumur 45 Ribu Tahun

Lukisan Gua Sulsel Tertua di Dunia Berumur 45 Ribu Tahun – Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa yang berfokus pada kegiatan melukis. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu.

Lukisan gua berupa gambar babi Sulawesi (Sus celebensis) yang ditemukan di Gua Leang Tedongnge, Sulawesi Selatan resmi dipublikasikan di jurnal Science Advances Vol. 7 No. 3 yang terbit pada Rabu, 13 Januari 2021. Dalam jurnal tersebut, tim peneliti gabungan Australia-Indonesia menjelaskan temuan lukisan gua itu secara rinci.

Lukisan tersebut ditemukan di Gua Leang Tedongnge, yang masuk dalam kawasan Club388 Indonesia karst Leang-Leang yang membentang antara Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan di Sulawesi Selatan. Gua itu berada di kawasan terpencil dan butuh waktu satu jam berjalan kaki untuk bisa tiba di gua tersebut. Selain itu, Leang Tedongnge hanya bisa diakses pada saat musim kemarau.

1. Diperkirakan lukisan gua itu dibuat setidaknya 45.500 tahun lalu

Gunung Bulu’ Barakka di kawasan Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulsel. IDN Times/Sahrul Ramadan

Lukisan berukuran 136 cm x 54 cm itu digambar menggunakan pigmen oker berwarna merah tua. Pigmen oker, pewarna paling awal dalam peradaban manusia modern, bersumber dari tanah liat dengan pigmen mineral kemerahan dan mengandung zat besi yang sudah teroksidasi.

Meski telah melakukan penelitian di kawasan karst tersebut selama satu dekade, lukisan babi bertanduk –yang menjadi ciri khas dari jenis babi Sulawesi jantan dewasa– baru di temukan pada 2017 lalu oleh anggota tim peneliti dan salah satu mahasiswa doktoral asal Indonesia.

Kepada The Guardian dan kantor berita AFP pada Rabu pekan lalu, salah satu peneliti yakni Maxime Aubert menjelaskan bahwa lukisan ini di buat setidaknya 45.500 tahun lalu. Taksiran tersebut di peroleh dari metode penanggalan radiokarbon yang biasa di pakai ilmuwan.

2. Resmi menyandang status sebagai gambar buatan manusia tertua di dunia

Lukisan Gua di Sulsel Diyakini Tertua di Dunia, Berumur 45 Ribu Tahun

Dengan taksiran usia 45.500 tahun, lukisan yang di temukan di Sulawesi Selatan tersebut resmi menyandang status gambar buatan manusia tertua di dunia. Sebelumnya ada lukisan sekelompok sosok setengah manusia setengah binatang (therianthropes) sedang berburu mamalia, yang berusia 43.900 tahun. Lukisan itu di temukan di Leang Bulu’sipong, yang juga berada di kawasan karst Maros-Pangkep.

Secara rinci, di dekat lukisan babi tersebut turut pula sepasang cetakan tangan. Babi dalam lukisan juga tampak menghadap dua ekor babi lain, yang sayangnya hanya menyisakan separuh saja.

“Babi itu sepertinya sedang mengamati perkelahian atau interaksi sosial antara dua babi lainnya,” ungkap Adam Brumm, salah satu peneliti.

Menurut catatan peneliti, manusia pada Zaman Es (periode Pleistosen, 110.000 sampai 10.000 tahun lalu) memang berburu babi sebagai makanan. Karena menjadi bagian dari hidup sehari-hari, babi pun menjadi obyek dari “karya seni” di dinding gua tempat tinggal mereka.

3. Di harapkan bisa jadi petunjuk bahwa manusia modern telah hidup di Indonesia sejak Zaman Es

Lukisan Gua di Sulsel Diyakini Tertua di Dunia, Berumur 45 Ribu Tahun

Tim peneliti sendiri percaya bahwa lukisan babi tersebut sudah di buat oleh Homo sapiens atau manusia modern. Namun, klaim tersebut di akui masih harus mendapat penelitian lebih jauh.

Lukisan tertua ini di harap bisa menjawab teka-teki migrasi manusia hingga mencapai daerah Australia sekitar 65.000 tahun lalu. Saat melakukan migrasi, mereka lebih dulu melintasi wilayah pulau-pulau timur Indonesia yang kini di kenal sebagai kawasan “Wallacea”.

Tim Griffith University Australia sendiri sudah pernah menjelaskan temuan lukisan gua tersebut di Pusat Arkeologi Nasional Jakarta, Oktober 2014 lalu. Di hadapan peserta seminar, mereka menjelaskan bahwa lukisan tersebut menjadi petunjuk bahwa manusia modern tidak hanya hidup di daratan Eropa tetapi juga ada di Indonesia.

Comments are closed.